Tampilkan postingan dengan label Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quran. Tampilkan semua postingan

Manipulasi Iblis

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua. (QS. Al-A’rof: 20-21)

Kebutaan Hati

وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.

Ketika berbicara tentang akhirat kadangkala hanya mampu menyentuh hati dalam dimensi waktu sejenak yang tidak bertahan lama. Itu terjadi bukan karena akhirat tidaklah begitu penting untuk selalu diingat, namun karena persentuhan antara dunia yang berada nyata secara terus menerus dan bayangan akhirat yang seakan masih jauh membuat pandangan akan kehidupan akhirat mudah terlupakan hanya dalam beberapa saat setelah ia nampak begitu jelas di depan mata yang setelah mentadaburi ayat-ayat Allah yang kadang disertai dengan cucuran air mata.

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس و بينات من الهدى والفرقان

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS. Al-Baqoroh: 186)

"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Al-Furqon: 74)

Anak-anak sudah mulai masuk sekolah, keceriaan anak-anak juga membuat senyuman bagi orang tua. Ketika menyekolahkan anak-anak mereka, tentu orang tua punya harapan agar anaknya kelak menjadi orang yang baik, berguna bagi agama dan bangsa, menjadi penyejuk mata. Mereka tumbuh berkembang dengan ajaran agama yang baik dan bekal pendidikan yang cukup untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari mereka saat ini.

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqoroh: 197)

Setiap perjalanan membutuhkan persiapan dan bekal, agar perjalanan yang ditempuh mendapat kenyamanan dan terhindar dari kesukaran yang mungkin terjadi di dalam perjalanan. Dalam konteks ayat di atas, ia berbicara tentang persiapan perjalanan menuju tanah suci Makkah Al-Mukarromah untuk melaksanakan haji, karena memang perjalanan ibadah haji adalah perjalanan yang berat, apalagi pada masa-masa wahyu masih diturunkan sangat berbeda dengan saat sekarang yang telah dilengkapi dengan hotel berbintang dan tenda-tenda anti bakar di mina, namun bagaimanapun seseorang harus tetap mempersiapkan bekal untuk melaksanakan perjalanan suci tersebut.

“Kecelakaan besarlah bagiku; sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab-ku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia”. (QS. Al-Furqon: 28-29)

Ungkapan penyesalan memang tak pernah datang di awal. Penyesalan itu terucap ketika semua telah terjadi. Hanya karena satu sebab yang ternyata sangat menentukan. Sebab itu adalah pilihan. Pilihan yang memang sangat mempengaruhi langkah seseorang, pemikiran seseorang, sikap bahkan tujuan hidup seseorang. Alasan pilihan itu bisa ditentukan oleh beberapa sebab, di antaranya adanya kecocokan.

Ketika Allah menggambarkan tentang sesuatu di dalam Al-Quran, tentu ada maksud dan hakikat yang ingin disampaikan, boleh jadi akan keterkaitan gambaran tersebut dengan sebuah nilai atau karena ada hubungannya dengan aktualisasi keimanan terhadap diri pribadi dan kehidupan nyata.

Gambaran Al-Quran tentang kehidupan dunia di dalam banyak ayat hampir sama dan serupa yang berpulang pada suatu muara bahwa kehidupan dunia adalah permainan, senda gurau dan kenikmatan yang sedikit.

Fase Tua Renta

Masa tua renta adalah fase kembalinya seseorang seperti anak-anak. Tanpa keceriaan anak-anak dan kepolosan mereka yang disenangi semua orang! Orang tua itu terus kembali ke belakang. Kemudian ia melupakan apa yang telah ia ketahui, sarafnya melemah, pemikirannya melemah, daya tahannya melemah, hingga akhirnya ia menjadi anak-anak. Namun jika anak-anak itu disenangi bicaranya yang salah-salah dan menarik hati dan perhatian setiap kali ia berbuat kekeliruan, maka seorang tua renta itu sebaliknya.

Pakaian Jiwa

Pemandangan ketelanjangan dan terbukanya aurat pernah terjadi ribuan tahun lalu, saat Adam dan Hawa memakan buah di surga, namun mereka segera menutupinya dengan daun-daun surga. Pemandangan itupun pernah dilakukan oleh masyarakat jahiliyah dalam ritual ibadah yang mereka anggap peninggalan nenek moyang yang perlu dilestarikan saat thowaf mengelilingi ka'bah. Saat ini pemandangan ketelanjangan pun banyak terjadi, namun dengan banyaknya pabrik pakaian belum mampu menutupi keterbukaan aurat yang sengaja diobral murah.

Sudah berlalu ribuan tahun kisah mencekam ini berlalu, namun nafas kita akan tertahan tatkalah mengikuti perjalanan kisah ini, seakan-akan kita menyaksikan sendiri peristiwa sejarah ini. Masih terbayang kisah subuh di situ gintung yang menghanyutkan semua harta benda, meninggalkan kedukaan atas mereka yang terbawa arus air deras.

Kisah ini lebih mencekam, yaitu saat kapal yang membawa Nabi Nuh dan orang-orang beriman ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Kengerian pada alam yang membisu dan ketakutan di dalam jiwa menjadi satu. Dalam suasana itu terjadi dialog yang diabadikan Al-Quran antara sang ayah dan anak kandungnya. Tawaran sang ayah ditolak lantaran sang anak percaya akan selamat dengan mencari perlindungan di gunung yang tinggi.

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِير
"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (QS. Al-Qoshosh: 24)

Itulah doa yang dilafazkan oleh nabi Musa a.s setelah memberi minum ternak milik kedua putri nabi Syu'aib, lalu ia duduk di tempat yang teduh dan memohon segala kebaikan dari sisi Allah. Yang mana sebelumnya telah diikuti oleh doa-doanya yang lain. Tatkala nabi Musa a.s keluar dari kota Mesir karena pembesar-pembesar negeri itu berunding untuk membunuhnya, nabi Musa a.s keluar dengan perasaan penuh khawatir dan takut jikalau ada orang yang mengejar untuk menangkapnya, nabi Musa berdoa:

Kekuatan Dai

Barang siapa yang kekuatan Allah bersamanya, maka tidak ada ketakutan atas dirinya sedikitpun. Walaupun sepertinya ia tidak memiliki kekuatan yang dapat dilihat dan nampak oleh pandangan mata, walaupun tidak ada bukti yang menunjukan bahwa ia memilikinya. Barang siapa yang bersamanya kekuatan Allah, maka tidak ada kekuatan lain, rasa ketenangan lain yang menyertainya. Begitu juga barang siapa yang memiliki kemuliaan iman, maka sesungguhnya ia memiliki segala kebaikan. Sebaliknya, barang siapa yang tidak memiliki sesuatu yang paling bernilai ini, apapun yang ia miliki sesungguhnya tidaklah dapat memberi manfaat apa-apa.

Sesungguhnya perjalanan dakwah adalah perjalanan jauh dan berat. Dalam konteks ayat ini ia berbicara tentang sebuah kesiapan untuk berperang menghadapi kemuysrikan, seperti halnya juga dakwah yang kita perjuangkan tak akan pernah berhenti berbenturan dengan kemungkaran. Perjuangan yang jauh dan berat ini tak banyak orang kuat dan sanggup melaluinya. Kalaupun sekiranya perjalanan ini dekat, ringan dan nyaman tentulah banyak yang akan ikut bergabung di dalamnya.

Maryam ia adalah sosok seorang wanita yang Allah pilih dan Allah sucikan. Lalu ada pertanyaan yang cukup menggelitik rasa penasaran kita. Kenapa Allah memilih Maryam? atas dasar apa? lalu apakah gerangan pilihan itu? Kita akan mentadaburi ayat ke 42 surat Ali Imran, yang berhubungan erat dengan ayat lain, yaitu surat Maryam ayat 16-29.

Sepulang maghrib ini begitu sepi, saat kemaren bidadari itu ku antar tuk melintasi begitu banyak ciptaan Allah yang begitu indah. Ku duduk bertelekan ranjang melantunkan ayat-ayat Ar-Rahman yang begitu indah. Surat ghofir ku awali dengan "Haa miiiim.. Tanzilul kitabi minallahil azizil 'aliim.. sampai 40 ayat kubaca sambil merenungi arti demi artinya.. begitu indah dan menyentuh qolbu.. Mari kita sempatkan membaca ayat-ayat ini sambil membaca blog agar kita juga mendapatkan pahala..

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra, ada seorang pemuda sholeh yang sangat takut dengan Allah. Pada suatu hari ketika pulang dari sholat isya menuju ke rumahnya, seorang wanita cantik menyapanya di jalan lalu menawarkan dirinya pada pemuda itu. Kemudian wanita itu berjalan dan diikuti oleh sang pemuda dibelakangnya sehingga sampailah mereka di depan rumah wanita tersebut.

Ketika berdiri di depan pintu sang pemuda ingat dengan sebuah ayat dalam Al-Quran:
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mendapat godaan untuk berbuat dosa dari setan merekapun segera ingat kepada Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Al-A'rof: 201)

Ketika itu juga pemuda itutersebut tersungkur pingsan..

Melihat hal itu akhirnya wanita tersebut meminta tolong kepada tetangganya untuk mengantar sang pemuda ke rumahnya. Ketika bapak sang pemuda tadi melihat keadaan anaknya ia bertanya sebab sehingga anaknya pulang dengan keadaan tak sadarkan diri. Namun sang pemuda tetap diam membisu. Karena bapaknya terus memaksa, akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi.

Saat pemuda itu membaca ayat yang membuat dirinya pingsan tiba-tiba tubuhnya menjadi semakin lunglai dan ruhnyapun keluar dari jasadnya, sang pemudapun meninggal dunia.

Tatkala Umar bin Khattab mengetahui kejadian itu, Umar berkata: "Biarkan aku saja yang menguburkan jenazahnya" Setelah jenazah pemuda itu dikuburkan. Umar bin Khattab berdiri di samping kuburan pemuda itu sambil berkata : "Wahai Fulan, وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ siapa yang takut kepada Tuhannya, maka ia akan mendapatkan dua surga".

Lalu Umar mendengar suara dari kuburan menjawab: "Wahai Umar sesungguhnya aku telah mendapatkan janji dari Tuhanku".

Disarikan ari majalah Al-Mujtama' edisi 8-14 Sha'ban 1429 H

Ketika manusia mencoba mengupas keagungan Al-Qur’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui keagungaan dan kebesaran Allah swt. Karena dalam Al-Qur’an terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terpikirkan dalam jiwa manusia, dan berbagai lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita.

Oleh karenanya, mereka-mereka yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati, dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya. Mereka dapat merasakan sebuah keindahan yang tidak terhingga, yang dapat menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil sekali. Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qur’annya mengungkapkan, “Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya.”

Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996 : I/312), “Bahwa suatu ketika Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah saw. pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah saw. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah saw.

Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah saw., dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan.

Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan Al-Qur’an.

Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw. Selain contoh di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah mengatakan, “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Al-Mujadilah: 21)

Dikutip sebagian dari dakwatuna.com

Pada masyarakat Islam, persatuan dan kesatuan atau lebih sering disebut dengan ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati. Karena itu, ketika Nabi Saw berhijrah ke Madinah, yang pertama dilakukannya adalah Al-Muakhah, yakni mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar. Ini berarti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman, maka seharusnya ukhuwah Islamiyah yang didasari oleh iman menjelma dalam kehidupan sehari-hari, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS Al-Hujurat (49):10]

Satu hal yang harus diingat bahwa, ketika ukhuwah islamiyah hendak diperkokoh atau malah sudah kokoh, ada saja upaya orang-orang yang tidak suka terhadap persaudaraan kaum muslimin, mereka berusaha untuk merusak hubungan di antara sesama kaum muslimin dengan menyebarkan fitnah dan berbagai berita bohong.

Dalam kehidupan umat Islam, kita akui bahwa ukhuwah Islamiyah belum berwujud secara ideal, namun musuh-musuh umat ini tidak suka bila ukhuwah itu berwujud, mereka terus berusaha menghambatnya. Karena itu, setiap kali ada berita buruk, kita tidak boleh langsung mempercayainya, tapi lakukan tabayyun atau cek dan ricek terlebih dahulu kebenaran berita itu. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS Al-Hujurat (49): 6]

Di dalam ayat 11-12 Surat Al-Hujurat di jelaskan, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara:

Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita.

Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah.

Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri.

Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.

disarikan dari dakwatuna.com

Dari Ibnu Umar ra, Rosulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selagi nyawanya belum sampai di kerongkongan".

Hadist ini menunjukan bahwa Allah masih menerima taubat, selagi ruh seorang hamba masih berada di dalam jasad dan belum sampai di kerongkongan.

Al-Quran menjelaskan hal senada sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya pantas bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Alah maha mengetahui lagi Maha bijaksana. (An-Nisa : 17)

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan maksud dari kata "bi jahaalah" atau "karena kebodohan dan tidak mengerti" adalah :

1. Sesungguhnya siapa yang mengetahui Allah SWT dengan keagungan-Nya maka ia akan takut melakukan perbuatan dosa dan bermaksiat pada-Nya, karena merasakan adanya Allah di hatinya.

2. Sesunguhnya ketidaktahuan terhadap pengaruh dari kemaksiatan terhadap ketaatan kepada Allah akan membawa seseorang kepada tergesa-gesa untuk menikmatinya di dunia. Ia menyegerakan dosa dan menanti-nanti taubatnya. Seperti seorang yang lapar dan memakan makanan beracun, berharap akan menahan laparnya, namun bukan kenyang yang ia dapatkan melainkan kematian. Begitulah gambarannya, seorang yang ingin mendapatkan kesenangan, namun bukan kebahagiaan yang ia rasakan namun azab api neraka yang akan membakarnya.

Ibnu Abbas ra, menjelaskan maksud dari kalimat (Mereka bertaubat dengan segera) adalah: "Sebelum datang sakit dan kematian, ini mengisyaratkan bahwa taubat itu hendaklah disegerakan ketika dalam keadaan sehat, sehingga ia banyak dapat melakukan amal shalih. Kerena itulah Allah menyertakan taubat dengan amal shalih di dalam banyak ayat Al-Quran".

Karena taubat dalam kondisi sehat dan kuat itu ia lakukan pada sa'at ia juga mampu melakukan maksiat, sehingga ia tinggalkan kejahatan itu untuk bertaubat karena takut kepada Allah, mengharapkan ganjaran dari-Nya, mengedepankan ketaatan terhadap kemasiatan kepada-Nya.

Dalil tentang Firman Allah dan Hadist di atas :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
(QS. An-Nisa:17)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِر
ْ
Hadist Riwayat Imam At-Tirmidzi no. 3880

Cukuplah Bagiku

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan firman Allah :
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
ia berkata: "Dari Buroidah, Rosulullah bersabda: "Barang siapa membaca kalimat ini 10 kali setiap selesai sholat ia akan mendapatkan bahwa Allah mencukupkan baginya lima hal di dunia dan lima hal di akherat".

Imam Al-Qurthubi melanjutkan: "Cukuplah Allah buat agamamku, cukuplah Allah buat duniaku, cukuplah Allah atas apa-apa yang menyedihkanku, cukup Allah saja atas siapa yang berlaku lalim padaku, cukuplah Allah atas siapa yang dengki kepadaku.

Cukuplah Allah ketika kematian datang kepadaku, cukuplah Allah ketika aku ditanya di dalam kuburku, cukuplah Allah ketika amalanku ditimbang, cukuplah Allah ketika aku melewati shirothol mustaqim, cukuplah Allah.. tiada Tuhan selain Dia kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali".

(Dari Kitab :مسك الدعاء من كتاب الله و سنة المصطفى)

;;